Penghuni Jok Belakang

Awan mendung masih memayungi senja ini. Angin pun mulai kencang, pertanda hujan akan segera turun. Sekilas melirik ke spion kiriku, lalu tersenyum.

Di jok belakang itu, dahulu pernah ada yang mengisi. Mengisi dengan candaan, tawa, tangisan, dan amarah. Mudah saja bagiku menikmati senyumanmu dulu. Hanya sesederhana cekikikan lembutmu sudah bisa membuatku tertawa kecil. Cubitanmu di pinggangku masih terasa sampai sekarang. Kedua tanganmu yang sering kau masukkan ke kantung jaketku, hangat katamu. Kita selalu naik motor keliling keliling tanpa rencana, tak tau harus kemana, sampai harus memutar mutar di tempat yang sama, ataupun ketika perjalanan pulang sekolah kau memilih lewat jalan yang jauh saja.

          "Lewat yang jauh ae lhoo. Masih pengen jalan-jalan" 

Aku mengerti dibalik kata itu, kau masih ingin berdua saja. Menikmati ramainya jalan terkadang sambil menggodamu untuk mampir ke rumah budhemu. Karena aku tahu, kamu sungkan ketika ketahuan oleh kerabatmu bahwa sedang dibonceng cowok.

"Jangan a, Mbuh ah, males aku."

Rengekanmu seperti itu yang membuatmu lucu. Pipi merahmu merona ketika cemberut, inginku mengigitnya saja. 

Bunyi bel motor di belakangku membuyarkan lamunaku. Segera ku teruskan perjalanan untuk pulang, sambil sesekali melirik ke arah spion kiriku. Sekarang di jok belakang itu tidak berpenghuni, sudah tidak ada kamu dan semua candaan, tawa, tangis atau amarahmu. Terima kasih sudah pernah menjadi penghuni jok belakang itu.









ditulis sambil menikmati martabak manis Perempatan Sengon

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita

deadly sins

INTRODUCTION GA PENTING